Benar nggak sih, berpikir positif dan membuang sedikit demi sedikit kekhawatiran membuat hidup jadi lebih baik? Saya mencoba membuktikannya dalam 6 hari. What if vs why not, kekhawatiran dilawan dengan keberanian bilang "kenapa tidak". Ada hasilnya? Simak!
Ketakutan nggak bisa menyelesaikan deadline karena liputan dadakan dan narasumber nggak bisa dihubungi sangat mengganggu pikiran dan membuat saya nggak bisa berkonsentrasi. Hasilnya, saya benar-benar nggak bisa menyelesaikan deadline, padahal nggak ada alasan untuk panik karena nggak ada satu pun hal yang saya khawatirkan itu terjadi. Kesimpulannya, kecemasan bertumpuk yang menghambat semuanya, bukan keadaan. Saya gagal, tapi saya belajar bahwa kegagalan sebenarnya bisa dicegah dengan pikiran positif. Pikir saya, inilah saat tepat menggunakan why not dan jauh-jauh dari kata what if yang menjebak.
Hari kedua: biar gagal tetap nekat…
Saya paling lemah dalam urusan menghapal jalan. Karenanya, hari berikutnya saya tertantang mencoba jalan yang belum pernah saya lewati sebelumnya, sekadar iseng. Bagaimana kalau nyasar, bagaimana kalau masuk jalur yang salah dan kena tilang, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana lainnya. Saya pun menjawab semua pertanyaan itu dengan satu kata, nekat. Dan kenekatan saya ini berbuah hasil positif. Dua kali salah jalan, saya malah menemukan jalan alternatif yang lebih nyaman untuk pergi-pulang kerja. Selain itu, adrenalin yang terpacu, percampuran antara semangat, rasa cemas, dan was-was ternyata bikin hari ini jadi luar biasa. Kalau hal-hal baru ternyata nggak separno yang dibayangkan dan malah bikin hari nggak biasa, kenapa nggak coba terus berinovasi?





